Gadget dan Ancaman Degradasi Moral

  • 2 min read
  • Dec 30, 2020
Gadget dan Ancaman Degradasi Moral

Maskodin, Berita Tekno Terbaru – Zaman telah berkembang, kemajuan teknologi pun tak lagi terbendung. Salah satunya dalam hal teknologi informasi, seperti perkembangan smartphone (telepon pintar). Keberadaanya tidak hanya menjadi alat komunikasi, dengan fasilitas yang dimilikinya, smartphone memiliki fungsi dalam hal penyimpanan data, Internet, perbankan, televisi, game, kamera, foto, radio, gambar, musik, pengiriman pesan (pendek dan multimedia), dan fitur-fitur lain.

 

Keberadaan smartphone kini merupakan salah satu kebutuhan primer masyarakat dari segala lapisan. Tak dapat dipungkiri, smartphone telah menjadi ikon modernitas yang juga menandai pergeseran nilai, struktur sosio-kultural, termasuk juga dalam hal mendidik anak.
Semua orang boleh dikata telah terbuai “mewahnya” teknologi multifungsi tersebut. Baik karena memang kebutuhan seperti berkomunikasi melalui saluran telephon, media sosial, maupun hanya sekedar untuk memainian permainan online maupun ofline. Bahkan, perkembangan teknologi informasi tersebut disebut-sebut telah menyebabkan manusia menjadi sejenis makhluk tuna-kesadaran dan miskin respons yang kehilangan kemanusiaannya sebagai makhluk hidup. Semuanya tergantikan oleh keyataan “semu” karena terbuai oleh pesan-pesan singkat tanpa bertatap muka.
Bahkan, dalam beberapa hal, seseorang rela terlihat konyol hanya demi sebuah konten yang dapat viral di media sosial. Sampai dalam beberapa kasus, nilai-nilai sosial dan rasa maslu telah benar-benar dutinggalkan. Yang terpenting hanyalah ikut tren tanpa peduli efek buruk yang dapat ditimbulkan.
Kemudian, dalam perkara permainan yang berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi, keberadaanya benar-benar telah mendegradasi nilai-nilai sosial dan budaya yang selama ini berkembang dalam masyarakat. Bahkan, Majelsi Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini sampai mengeluarkan fatwa haram terhadap sebuah permainan yang tengah tengah tren dimainkan. Terutama dalam mendidik anak. Misalnya seperti anak menjadi tidak lagi peduli pada lingkungannya, tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai perkawanan, bahkan sampai menghilangkan pentingnya belajar nilai sosial dalam masyarakat seperti nilai-nilai kultural agama dan budaya.
Kemudian, perkembangan teknologi informasi juga menyebabkab cara orang tua dalam mendidik anak mengalami pergeseran. Bila pada generasi sebelum generasi “gadget”, sorang anak pasti gemar bermain di luar rumah bersama kawan-kawan, sampai orang tua mati-matian meyuruh pulang. Sekarang sebaliknya, anak cenderung hanya berteman dengan gadget di dalam rumah, sampai orang tua kewalahan untuk memintanya bermain bersama kawan-kawannya di luar rumah agar ia tidak melulu memainkan telepon pintar secara berlebihan yang nyata “merusak” nalar.
Tentu hal ini sangat bahaya. Sebab mengancam generasi penurus bangsa. Untuk di Minangkabau sendiri, perkembangan teknologi informasi yang berlebihan oleh anak dapat menyebabkan pengikisan dan degradasi terhadap nilai-nilai budaya yang terkenal dengan “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.
Perlu jalan keluar
Dalam menanggapi perkembangan teknologi infomrasi yang begitu pesat, pemerintah perlu mencari jalan keluar agar generasi penerus bangsa tidak menjadi generasi yang “tercemar teknologi”. Bagi pemerintahan Sumatera Barat, langkah untuk melindungi budaya sudah sangat mendesak untuk dilakukan.
Salah satu cara yang mungkin bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memasukkan pembelajaran mengenai budaya minangkabau kedalam kurikulum pendidikan dengan waktu belejar yang lebih besar atau lebih lama dari sebelumnya. selain dnegan memasukkan perlajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) kedalam kurikulum, juga perlu dengan mengembangkan pembelajaran tentang budaya Minangkabau kedalam salah satu kegiatan ekstrakurikuler.
Selain itu, yang juga perlu dilakukan adalah menumbuhkan minat dari anak-untuk belajar budaya minangkabau. Cara yang perlu dipertimbangkan adalah menerapkan metode belajar yang nenhenangkan. Misalnga dengan mengajak anak peserta didik untuk mengenal budaya langsung dari sumbernya, seperti memperbangak kunjungan ketempat-tempat bersejarah yang kental nuansa dan adat minangnya (museum, prasasti, bangunan, dan tempat-tempat peninggalan sejarah lainnya).
Tentu, hal tersebut di atas hanyalah satu dari upaya yang dapat dilakukan. Pada dasarnya, yang perlu dilakukan adalah “menjaga” budaga agar tidak hilang ditelan zaman. Jangan sampai, nilai-nilai luhur minangkabau, yang merupakan salah satu nilai-nilai adat terkuat di Indonesia hilang akibat kalah oleh teknologi. Bila tidak ada lagi generasi muda yang memahami, maka falsafah dan adat minangkabau hanya akan menjadi sejarah yang kian terlupakan.
Sumber : Kumparan.com

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *